Kisah Inspiratif! Kursi Roda Tak Membatasi Antony Meraih Beasiswa LPDP


Antony Tsaputra merupakan satu dari banyak orang yang membuktikan bahwa keterbatasan tidak menghalangi seseorang untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Menyandang disabilitas dengan severe physical impairment mengharuskanya untuk menggunakan kursi roda setiap saat. Namun, hal itu tidak membatasi impianya untuk mengunjungi negeri-negeri yang jauh.

Hingga kini ia menjadi kadidat doktor dari University of New South Wales (UNSW) di Sidney, Australia. Antony sudah menyelesaikan studi S-1 dari Universitas Andalas, Padang pada tahun 1998 dan melanjutkan jenjang S-2 di Griffith University, Queensland.

Yang mengesankan, Anthony menempuh pendidikan S-1, S-2, dan S-3 tanpa biaya sendiri. Beasiswa S-1 ia peroleh dari skema Beasiswa Bung Hatta tahun 1998, kemudian jenjang S-2 melalui pembiayaan penuh plus disability package dari pemerintah Autralia tahun 2010. Untuk jejang S-3, laki-laki kelahiran 19 Desember 1976 ini pun tengah berjuang menyelesaikan program S-3 di UNSW dengan biaya penuh dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Topik penelitian disertasinya adalah tentang penganggaran pemerintah yang inklusif terhadap penyandang disabilitas (Disability Inclusive Budgeting). Ia ingin menunjukan kepada dunia bahwa beasiswa dari pemerintah Indonesia juga bisa merata termasuk untuk peyandang disabilitassepertinya.

Mengambil topik penelitian tentang penganggaran pemerintah yang inklusif terhadap penyandang disabilitas. Antony memiliki ketertarikan besar utuk mendalami disability policy atau kebijakan yang berkaitan dengan kebijakan disabilitas. Menurutnya, sejak diratifikasinya United Nations Convention on the Rights of Persons with Disabilities pada 2011 oleh pemerintah, arah disability policy di Indonesia dituntut untuk berubah. Lebih tepatnya perubahan pada perspektif dari sebelumnya penyandang disabilitas dianggap sebagai kelompok charity based menjadi rights based. Dengan demikian, penyandang disabilitas harus dilihat tidak lagi sebagai masyarakat pasif, tidak berdaya, dan harus selalu dibantu, tetapi sebagai warga negara aktif yang juga bisa berpartisipasi dalam pembangunan.

Dilansir dari laman LPDP, Minggu (8/4/2018), Antony bercerita mengenai pengalamanya menjalani proses seleksi substantif beasiswa LPDP dimana pada waktu itu tempatnya tidak aksesibel bagi pengguna kursi roda. “

Saya digendong naik turun tangga bergantian oleh ayah dan seorang teman sesama peserta yang baru berkenalan pada hari itu. Namun, kondisi yang demikian tidak menyurutkan semangat saya,” kenang Antony.

Hal yang sama terjadi saat persiapan keberangkatan (PK), di mana sebagian kegiatan diadakan di lantai dua tanpa akses utuk kursi roda. Sebelumnya pihak LPDP telah memberikan dispensasi bagi Antony untuk tidak mengikuti PK karena keterbatasan yang dimilikinya. Namun, dia tidak ingin mendapatkan perlakuan khusus. Berbekal semangat dan bantuan dari teman-teman awardee PK ke-22, Antony pun mampu mengikuti rangkaian acara sampai hari terakhir.

Dukungan dari keluarga dan tekad besar yang dimilikinya pun menjadi kekuatan bagi Atony untuk menyelesaikan pendidikanya. Di Australia, ia didampingi oleh istri dan ayahnya. Ia menuturkan bahwa sangat bersyukur karena keluarganya juga sangat suportif.

“Istri dengan ikhlas dan tidak pernah lelah selalu mendampingi saya yang membutuhkan perawatan 24 jam,” ujarnya.

Bahkan terkadang sang istri sampai tertidur di bawah meja kerja Antony pada malam yang larut. “Begitu juga ayah dan ibu saya yang dengan sabar dan ikhlas harus berpisah sementara karena ayah ingin terus membantu istri mengurus saya, seperti menggendong dari dan ke kursi roda,” kata Antony menambahkan.

Fasilitas di Australia pun mendukung penyandang disabilitas sepertinya, karena memiliki ketersediaan reasonable accommodation berupa assistive technology dan aksesibilitas di berbagai fasilitas umum dan sarana transportasi untuk penyandang disabilitas.

Kedua pembimbing Antony juga berperan besar, bukan hanya membantu dalam sisi akademik, melainkan juga seluruh aspek yang dapat menunjang kelancaran studi. Antony tidak hanya aktif berkuliah, ia menjadi anggota tetap UNSW International Students Sub Committee for Equity, Diversity, and Inclusion.

“Saya juga ditunjuk sebagai penanggung jawab program difabel untuk PPIA (Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia) Pusat,” imbuhya.

Tahun lalu, organisasi itu membantu pemasaran produk kerajinan hasil karya penyandang difabel dari Sumatera Barat di Australia.

0 Response to "Kisah Inspiratif! Kursi Roda Tak Membatasi Antony Meraih Beasiswa LPDP"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

------=={Close Klik 2x}==------
Selamat Datang